Senin, 19 Mei 2014

Lokananta dan Monumen Pers Nasional: Mengintip Sejarah Perkembangan Media di Indonesia


Senin, 12 Mei 2014

3.30 am
Saya masih membolak-balikkan posisi badan dan kaki saya. Maklum, saya naik kereta Ekonomi AC yang punya kemiringan kursi 90 derajat. Di depan saya ada dua ibu-ibu paruh baya yang kekeuh dari awal duduk di kereta menaruh tas persis didepan kakinya, yang tentunya berimbas pada kaki saya yang jenjang. Alhasil saya menaruh kaki di lorong kereta. Saya masih dalam perjalanan kembali ke Jogja dari Jakarta. Kebetulan saya baru saja mengikuti acara yang diselenggarakan oleh salah satu organisasi yang saya ikuti. Sedikit curhat, selama 5 hari disana saya jarang tidur, jadi tidak bisa tidur di kereta rasanya cukup menyakitkan.

4.00
Jogja! Yeah akhirnya sampai juga di Stasiun Tugu Jogja setelah kurang lebih 9 jam di atas kereta dengan posisi tidur yang tidak karuan. Rasanya ingin cepat-cepat berenang di kolam mimpi di atas kasur. Eits, kemudian saya teringat, gerbang asrama UGM dibuka jam 5.15 pagi. Dang. Alhasil saya hanya bisa gigit jari melihat teman-teman saya yang pulang lebih dulu ke kost masing-masing. Yah, anak asrama harus sabar. Saya dorong koper saya kearah deretan kursi yang hanya diduduki satu-dua orang.

5.10
Thanks God, setelah kurang lebih satu jam, I can finally go ‘home’. Saya pulang dengan ojek bertarif 25.000 rupiah dari Stasiun Tugu ke Asrama UGM. Mahal? Mahal adalah ketika sesaat sebelumnya ada bapak supir taksi yang menawarkan jasa antar 70.000 rupiah. Helaaaw, itu bisa buat makan 3 hari pak..

5.20
Sampai di asrama saya segera membereskan barang-barang dan menyiapkan barang untuk dibawa ke Solo. Yup! This is the day, trip ke Solo bareng anak Composer-Komunikasi UGM 2013. I really can’t wait!

6.15
Entah saya yang procrastinating atau memang it’s what girls do,  tapi saya baru selesai persiapan jam 6.15 padahal meeting point di UGM seharusnya jam 6. Saya langsung ngibrit ke kampus secepat kilat.

6.17
Benar saja, Lapangan Sansiro yang jadi meeting point sepi! Tidak ada samasekali batang hidung anak-anak Composer. Badan saya langsung lemas. Pasti bis nya sudah berangkat dan secepat kilat di pikiran saya, saya sudah arrange rencana pergi ke Solo naik kereta. Tiba-tiba saya bertemu Alvin salah satu anak Composer. Dia bilang anak-anak Composer sekarang ada di GSP. Thaaanks Gooood it’s sooo relieving. Sampai di GSP, ternyata mereka masih santai dan bahkan masih ada yang sempat berjualan tahu bakso untuk Dana Usaha. Ckck anak konsumsi..

7.30
Akhirnya bis berangkat setelah ngaret 1 jam dari jam keberangkatan yang seharusnya. Sebelum dapat seat di salah satu dari 3 bis, seperti biasa ada ritual rebutan kursi. Yang satu pingin pindah ke sini, yang satu pingin pindah kesana. Yang ini lebih enak, yang sana bau pesing (kebetulan ada bis yang ada kamar mandi nya). Tapi ya syukur Alhamdulillah saya dapat bis nyaman hehehe. Awalnya, saya pikir Yeaahh, trip to Solo, it’s gonna be super FUN, nyanyi, ketawa-ketawa bareng temen, taking selfies. Iya sih setengah jam pertama, setelah itu? Tidur. Engga, cuma saya yang tidur. Apa boleh buat, badan udah nagih buat diistirahatin. Akhirnya saya kelewatan bagian yang super FUN, termasuk di dalamnya karokean lagu alay.

9.00
Akhirnya kami sampai di Solo. Tujuan trip pertama: LOKANANTA. Kesan pertama di Lokananta? Bangunannya kuno, jadul, dari luar sedikit kurang terurus. Sampai di lorong dalam pun sama. Kurang terawat dan kusam. Tapi sampai di dalam studio rekaman, kesan yang berbeda saya dapati. It’s the biggest recording studio I’ve ever seen in my entire life!!! Besar dan luas. Kalau boleh dibilang, ini gedung rekaman, bukan studio rekaman. Yes, you should come and see it! Desain nya suoer cantik, lapisan lantai dinding dan atapnya juga unik; melengkung, separuh lingkaran, garis, kubus, kotak-kotak. Kami mengira desain studio rekaman dibuat hanya untuk mempercantik ruangan, ternyata semua bentuk dan bahan ada perhitungannya! Menurut Pak Bobi, yang merupakan salah satu karyawan Lokananta yang bertugas untuk re-mastering Master Audio, pantulan 90 derajat akan menghasilkan suara pantulan yang 100x lebih besar.
Lokananta sendiri merupakan salah satu peninggalan bersejarah yang masih beroperasi hingga kini. Terletak di pinggiran Solo, Lokananta memiliki riwayat panjang yang unik dan bersejarah. Digagas oleh Bapak Utoyo, pimpinan Teknik RRI, disetujui oleh Pak Soekarno dan disahkan oleh Pak Sudibyo, Lokananta resmi berdiri pada tahun 1956. Mengingat Indonesia memiliki 27 propinsi dengan ciri khas budayanya masing-masing, Lokananta pada saat itu beroperasi sebagai sarana untuk menyatukan melalui kesenian dan lagu daerah masing-masing.
Pada awalnya Lokananta merupakan pabrik piringan hitam. Lokananta juga merupakan penyuplai siaran yang bertugas dalam transkrip berita antar RRI seluruh Indonesia. Kemudian pada tahun 1960 Lokananta tidak hanya menyuplai siaran, namun juga mengkomersialkan hasil produksi. Tahun 1970-an Lokananta dihantikan sementara. Ini adalah masa ketika piringan hitam berganti dengan kaset recording. Pada tahun 1980-an Lokananta menggandakan video [VHS]. Lokananta terus berkembang, menggandakan ringtone dan RBT, merekam musisi papan atas mulai dari Upit Sarimanah hingga White Shoes and the Couple Company. Artis lainnya yang pernah bernaung di bawah Lokananta adalah mulai dari Waljinah, Bubi Chen, Pak Gesang, Ki Naro Sabdo hingga Efek Rumah Kaca, Shaggy Dog, Glenn Fredly, White Shoes and the Couple Company dan beberapa band Indie lainnya.
Sesi pertama dibuka dengan sesi wawasan mengenai Lokananta dan tanya-jawab oleh para karyawan Lokananta, diantaranya adalah: Pak Andi Nugraha, Bu Titi, Bu Rube, Pak Dede, dan Pak Bobi. Setelah itu kami berkesempatan untuk mengunjungi ruang controlling yang tidak berubah sejak zaman dahulu. Selanjutnya kami berkesempatan untuk mengunjungi museum Lokananta. Di dalamnya terdapat benda-benda bersejarah seperti pemutar piringan hitam tahun 1950an, cetakan piringan hitam yang disebut Biscuit, kaset recording, master audio seperti  master Lagu Indonesia Raya pertama, dan masih banyak lagi. Di Lokananta kami belajar banyak mengenai sejarah Lokananta yang tentunya memiliki peran penting dalam sejarah nasional Indonesia. Kami juga dapat bersinggungan langsung dan melihat bukti fisik dari banda-benda bersejarah tersebut, meskipun memang banyak yang kurang terawat.
Lokasi pertama sudah selesai dijelajahi. Sebelum berangkat, kami dapat suplai Srabi Solo dari sang empunya kota: Kumalaningtyas a.k.a Panda. Lumayan untuk mengganjal perut sebelum makan siang. Satu yang paling penting: Taking Selfies!

12.00
Bis kami bergerak menuju rumah makan. Disana kami disambut dengan prasmanan yang luar biasa banyak. Saya lihat kebanyakan porsi yang diambil teman-teman melebihi kapasitas perut mereka, alhasil banyak makanan yang tersisa. Meski cuaca juga luar biasa panas, tapi kami tetap semangat menyantap makan siang kami.

13.00
Kami bergerak menuju Monumen Pers Nasional. Di perjalanan kami melewati sudut-sudut Kota Solo. Sampailah kami di Monumen Pers Nasional. Kesan pertama yang didapat adalah: Bangunan unik dan bersejarah di jantung Kota Solo. Sampai di dalam kami mendapati ruangan yang luas, bersih, terawat dan masih terjaga kelestarian-nya. Arsitekturnya pun unik. Meski perlu diakui, ruangan di dalam memang terbilang panas, tapi tidak menyurutkan semangat kami untuk berkeliling dan melihat-lihat. Di dalam kami langsung dihadapkan dengan majalah-majalah dan koran-koran zaman dahulu yang disusun secara apik. Tak ketinggalan diorama-diorama yang bercerita mengenai perkembangan pers di Indonesia, yang mengingatkan saya pada diorama yang ada di Benteng Vredeburg Yogyakarta. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah Radio Kambing. Aneh ya namanya? Ternyata setelah diberi penjelasan, ternyata alasan dibalik penamaan radio ini cukup menggetarkan. Dinamakan Radio Kambing karena dulu radio ini pernah disembunyikan di dalam kandang kambing oleh pejuang RRI dan TNI untuk mengelabui tentara Belanda. Saya merinding sendiri mendengarnya. Begitu besarnya perjuangan para pejuang pers pada saat itu untuk sebuah berita.
Acara dibuka oleh pihak museum dengan menampilkan video yang menampilkan profil Monumen Pers Nasional. Monumen Pers Nasional sarat akan sejarah pers di Indonesia. Di dalamnya terdapat benda-benda bersejarah seperti pemancar radio beragam tahun, benda-benda peninggalan para perintis pers dan koran-koran zaman dahulu yang masih tersimpan secara apik. Di gedung ini pula, organisasi profesi kewartawanan pertama yaitu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) terbentuk yakni pada 9 Februari 1946 yang juga merupakan hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia dan Hari Pers Nasional.

Setelah itu acara dilanjutkan dengan tur keliling Monumen Pers Nasional. Kami memasuki ruang Digitalisasi, Dokumentasi, Perpustakaan dan Mini Museum di sebelah kiri bangunan. Saya dan teman-teman sempat berhenti lama di ruang Dokumen Digital. Kami melihat-lihat hasil digitalisasi koleksi bukti terbit media cetak dengan touch screen monitor. Kami mendapati ratusan koran yang telah ter-digitalisasi dan telah tersimpan di dalam komputer. Menyenangkan untuk dapat melihat koran-koran 30-40 tahun yang lalu, yang mana bahasanya dapat dibilang ‘lugu’ karena cenderung to the point. Selain itu kami tidak hanya mendapati koran berbahasa Indonesia, namun juga koran bahasa Belanda.

15.30
Setelah puas menjelajah Monumen Pers Nasional, mengeksplorasi sejarah pers dan tentunya mengambil foto, saatnya kami pulang.

Dari trip kami ke Lokananta dan Monumen Pers Nasional, saya menyadari bahwa saat ini Indonesia sedang dalam proses peningkatan penjagaan aset nasional, terbukti dengan digitalisasi audio di Lokananta dan digitalisasi koran di Monumen Pers Nasional. Namun saya berharap agar Lokananta dapat lebih terfasilitasi layaknya Monumen Pers Nasional. Karena saya merasa mendapatkan trip yang berkesan di Lokananta, namun lebih baik lagi jika aset fisik yang ada lebih mendapat perhatian. Dengan begitu belajar sejarah menjadi lebih berkesan dan menyenangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar